Minggu, 11 Maret 2012

SISTEM PENGENDALIAN INTERN & AKUNTANSI


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kas merupakan alat pembayaran yang dimiliki perusahaan dan siap digunakan di dalam transaksi, setiap saat diinginkan. Namun kas juga merupakan aktiva yang paling sensitive terhadap tindak kecurangan oleh karyawan, sebab kecil volume fisiknya, tidak mencantumkan identitas pemiliknya, dan mudah ditransfer menjadi aktiva lain. Kerugian yang mungkin timbul dari dari perbuatan tidak etis itu dapat dihindari atau diminimumkan dengan pengendalian intern yang memadai terhadap perubahan kas sejak diterima pertama kali hingga dikeluarkan dari perusahaan (Karrenbrock dan Simons, 1958). Apabila pengendalian intern tidak memadai maka akan sangat potensial terjadinya penggelapan kas.[1]
Oleh sebab itulah diantara empat tujuan pengendalian intern adalah menjaga kekayaan perusahaan.Karena kerentanannya itulah biasanya perusahaan memakai rekening koran atau kas kecil untuk pembayaran jangka pendek. Hal itu diterapkan berdasarkan adanya sistem pengendalian intern dalam akuntansi.
Selain karena tugas makalah dari studi akuntansi dasar II sudah tentu kita harus mengetahui hal- hal mengenai pengendalian intern dalam akuntansi dikarenakan urgentnya pengendalian dalam suatu akuntansi. Karena apabila kita tidak mengetahui hal ini maka sama saja kita membiarkan harta kekayaan kita tanpa penjagaan sehingga perusahaan akan mengalami kerugian.Oleh karena itu berdasarkan beberapa sumber dan buku- buku kami membuat dan menyusun makalah tentang Sistem Pengendalian Intern & Akuntansi.
B.     Rumusan Masalah
a.      Mendeskripsikan Unsur, Prinsip, Tujuan, dan Solusi Pengendalian Intern untuk Perusahaan
b.      Alasan dan fungsi utama dari kas kecil
c.       Menjelaskan tentang Rekonsiliasi Bank dan Bagaimana Prosedurnya


C.    Batasan Masalah
Kami membatasi makalah ini karena luasnya pembahasan mengenai pengendalian intern.Kami hanya membahas mengenai pengertian, prinsip, unsur, tujuan dan solusi dari pengendalian intern untuk kas pada perusahaan.Kemudian masalah kas kecil dan kelanjutannya dalam rekonsiliasi bank.
D.    Tujuan Masalah
a.      Mampu menjelaskan  dan menyebutkan apa saja unsur, tujuan, prinsip dan solusi dari pengendalian intern untuk perusahaan.
b.      Mampu menjelaskan kas kecil dan kenapa kas kecil diperlukan dalam akuntansi.
c.       Mampu menjelaskan apa itu rekonsiliasi bank dan prosedurnya dalam akuntansi.
d.      Untuk memenuhi tugas studi akuntansi dasar II.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sistem Pengendalian Intern
       Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa pengendalian intern itu sangat penting. Tetapi kita belum mengetahui apa unsur, prinsip, dan tujuan pengendalian intern yang menyebabkan sistem ini begitu penting. Pengawasan intern didefinisikan oleh AICPA sebagai berikut: “Perencanaan suatu organisasi dan semua metode pelaksanaan dan pengukurannya yang diterapkan di dalam usaha untuk melindungi hartanya, memeriksa ketepatan dan kebenaran data- data akuntansi, memperhatikan efesiensi pelaksanaan, dan mendorong semua pegawai untuk menaati kebijaksanaan- kebijaksanaan manajemen. Definisi ini adalah definisi dalam arti luas.Jelasnya bahwa suatu sistem pengawasan intern mencakup bukan saja unsur- unsur secara langsung berhubungan dengan fungsi akuntansi tetapi juga hal- hal di luar bidang ini.[2]
       Sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran- ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efesiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.Definisi sistem pengendalian intern tersebut menekankan pada tujuan yang hendak dicapai, bukan pada unsur- unsur yang membentuk sistem tersebut. Dengan demikian, pengertian pengendalian intern tersebut diatas berlaku baik dalam perusahaan yang mengolah informasinya secara manual, dengan mesin pembukuan,maupun dengan komputer.[3]
       Tujuan sistem pengendalian intern menurut definisi tersebut adalah:
Þ    Menjaga kekayaan organisasi (perusahaan),
Þ    Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi,
Þ    Mendorong efesiensi, dan
Þ       Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.[4]
       Sedangkan unsur pokok sistem pengendalian intern adalah:
Þ    Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas,
Þ    Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya,
Þ    Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unti organisasi, dan
Þ    Karyawan yang sesuai mutunya dengan tanggung jawabnya.[5]
       Oleh karena pengendalian intern yang lemah membuka peluang kepada karyawan untuk bertindak curang, maka perlu dirancang dan dioperasikan pengendalian intern yang memadai. Rancang bangun pengendalian intern kas, atau terhadap pos lainnya, sudah tentu berbeda- beda antara perusahaan satu dan perusahaan lainnya, karena lingkungannya memang berbeda. Namun demikian, prinsip- prinsip pengendalian intern kas yang harus diperhatikan antara lain adalah:
1.      Pemisahan fungsi
Fungsi akuntansi harus dipisahkan dari fungsi menyimpan dan menyetujui pengeluaran kas serta fungsi pemeriksaan.
2.      Penyetoran ke bank
Semua penerimaan kas harus segera disetor ke bank dalam rekening giro.
3.      Pemeriksaan intern
Pemeriksaan intern terhadap catatan dan fisik kas harus dilakukan secara mendadak dan tidak dalam interval waktu yang teratur.
4.      Penggunaan sistem voucher
Sejalan dengan prinsip no.2, semua pengeluaran kas ( kecuali kas kecil ) harus dilakukan dengan sistem voucher dan setiap pengeluarannya menggunakan cek. Yang dimaksud dengan sistem voucher adalah bahwa setiap pengeluaran kas harus didukung dengan autorisasi pengeluaran kas (yang disebut voucher). Tanpa autorisasi ini, tidak boleh dikeluarkan kas.[6]
Berdasar pada prinsip pengendalian intern kas nomor 2 dan nomor 4, bahwa semua penerimaan kas harus segera disetor ke bank dan setiap pengeluaran kas harus menggunakan cek (kecuali kas kecil), maka terpeliharanya catatan ganda atas kas, yakni catatan perusahaan dan catatan bank. Terpeliharanya catatan ganda untuk kas ini mengharuskan perusahaan merekonsiliasi hasil pencatatan perusahaan dan bank. Disisi lain, dengan merujuk lagi pada prinsip pengendalian intern nomor 4, tidaklah mungkin menggunakan cek untuk pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil. Untuk mendukung efesiensi, sebaiknya perusahaan menerapkan sistem dana kecil.[7]
Sedangkan pendapat lain mengungkapkan bahwa ada tujuh buah prinsip pengendalian intern yang pokok meliputi :
1.      Penetepan tanggung jawab secara jelas
Manajemen haru s memtapkan tanggung jawab yang jelas dan tiap orang memiliki tanggung jawab untuk tugas yang diberikannya agar terciptanya pengendalian internyang baik.
2.      Penyelenggaraan pencatatan yang memadai
Agar aktiva terlindungi dan menjamin bahwa semua karyawan melaksanakan prosedur yang ditetapkan maka diperlukan pencatatan yang baik agar menjadi sumber informasi yang dapat digunakan manajemen untuk memonitor operasi perusahaan.
3.      Pengansuransian kekayaan dan karyawan perusahaan
Cara ini akan dapat mengurangi pencurian, karena perusahaan asuransi akan melakukan pengusutan jika terjadi kehilangan kas
4.      Pemisahan penyimpanan dan pencatatan aktiva tetap
Prinsip pokok pengendalian intern mengisyaratkan bahwa pegawai yang menyimpan atau bertanggaung jawab atas aktiva tertentu tidak diperkenankan mengurusi catatan akuntansi atas aktiva yang bersangkutan
5.      Pemisahan tanggung jawab atas transaksi yang berkaita
Pertanggungjawaban atas transaksi yang berkaitan atau bagian-abgian dari transaksi yang berkaitan harus ditetapkan pada orang-orang atau bagian-bagian dalam perusahaan sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang akan diperiksa oleh orang lain.
6.      Penggunaan peralatan mekanis (jika memungkinkan)
7.      Pelaksanaan pemeriksaan secara independen[8]
B.     Kas Kecil
       Setiap perusahaan pasti memiliki alat tukar transaksi yang berlaku di negara di mana perusahaan tersebut berlokasi, maupun yang berlaku secara internasional. Tanpa memiliki alat tukar transaksi, perusahaan tak akan mampu beroperasi untuk menjalankan usahanya sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Alat pertukaran itu disebut kas,kas merupakan alat pembayaran yang dimiliki perusahaan dan siap digunakan didalam transaksi perusahaan,setiap saat diinginkan.[9]
       Demi alasan keamanan, perusahaan biasanya menyimpan kasnya dibank karena di samping lebih aman juga untuk mempermudah pengendalian arus keluar masuknya harta perusahaan ini. Tetapi di samping menyimpan dananya di bank, perusahaan selalu memiliki kas yang di simpan oleh kasir perusahaan atau bagian keuangan dan bias anya disebut dengan nama kas kecil. Kas kecil adalah uang tunai yang disediakan perusahaan untuk membayar pengeluaran- pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan cek atau giro. Dana kas kecil tersebut dikelola oleh kasir yang bertanggung jawab terhadap pembayaran- pembayaran kecil dan rutin.[10]
Pengoperasian kas kecil meliputi[11] :
1.      Pembentukan kas kecil
Hal yang paling penteing dalam pembentukan kas kecil adalah penunjukan petugas sebagai pemegang kas kecil. Selain itu perusahaaan juga harus menetapkan jumlah dana kas kecil yang biasanya ditaksir dengan memperhitungkan kebutuhan dana untuk beberapa waktu kedepan, jika jumlah dana telah ditetapkan, maka kasir perusahaan menarik cek untuk diserahkan kepada pemegang kas kecil
2.      Pembayaran melalui kas kecil
Pemegang kas kecil mempunyai kewenangan untuk melakukan pengeluaran kas dengan uang yang terdapat dalam kas kecil selama itu tidak melebihi jumlah batasan maksimum dan melanggar larangan-larangan yang telah ditetukan oleh manajemen. Bukti pengeluaran kas kecil harus ditandatangani oleh pemegang kas kecil dan disimpan pada tempat pepnyimpapnan uang sampai kas kecil diisi kembali.
3.      Pengisian kembali kas kecil
Apabila uang yang terdapat dalam kas kecil telah mencapai batas minimum maka dana harus diisi kembali. Permintaan pengisisan dilakukan oleh pemegang kas kecil yang diajukan kepada bendahara perusahaan dengan menyerahakan daftar pengeluaran serta dilapiri dengan bukti pengeluaran kas keci . apabila segala sesuatunya sesuai dengan ketentuan perusahaan, maka bendahara member tanda persetujuan pada formulir permintaan pengisian kembali dan menarik cek sebesar jumlah kas kecil yang telah digunakan sehingga jumlah uang dalam kas kecil kembali pada jumlah semula.

       Terdapat dua metode pencatatan kas kecil, yaitu:
       Metode Imprest (Tetap)
       Metode imprest (tetap) ini adalah suatu metode pengisian dan pengendalian kas kecil di mana jumlah kas kecil selalu tetap dari waktu ke waktu, karena pengisian kembali kas kecil akan selalu sama dengan jumlah yang telah dikeluarkan. Penggunaan kas kecil yang dicatat dengan metode imprest tidak memerlukan pencatatan (jurnal) atas setiap transaksi yang terjadi. Bukti- bukti transaksi dikumpulkan, dan pada saat pengisian kembali, kas kecil diisi berdasarkan jumlah dari keseluruhan bukti transaksi tersebut.[12] Biasanya dibuktikan dengan semacam BPKK.
       Metode Fluktuasi
       Metode fluktuasi adalah metode pencatatan dan pengendalian kas kecil, di mana jumlah kas kecil akan selalu berubah karena pengisian kembali kas kecil  selalu sama dari waktu ke waktu. Setiap pengeluaran yang mempergunakan kas kecil harus selalu dicatat (dijurnal) berdasarkan bukti transaksi yang ada satu persatu.[13]
     Ilustrasi berikut ini mungkin dapat memperjelas keterangan mengenai pencatatan kas kecil tersebut di atas:
       Pada awal Februari tahun 2006, manager keuangan PT. Mitra Lestari membentuk dana kas kecil yang akan digunakan untuk membayar pengeluaran- pengeluaran tunai yang tidak besar jumlahnya dan sering terjadi. Disepakati, dana kas kecil yang dibentuk sebesar Rp. 1.500.000. akan diisi kembali setiap tanggal 1 dan 16 setiap bulannya.[14]
       Selama bulan Februari 2006, transaksi PT. Mitra Lestari yang menggunakan kas kecil adalah sebagai berikut:
       04/2/2006     Pembelian materai dan perangko sebesar Rp. 225.000.
       10/2/2006     Membayar beban perbaikan kendaraan sebesar Rp. 600.000.
       12/2/2006     Membeli bensin, solar dan minyak sebesar Rp. 275.000.
       17/2/2006     Membayar beban perbaikan gedung kantor Rp. 850.000.
       25/2/2006     Membeli perlengkapan kantor sebesar Rp. 450.000.
       Jurnal umum yang diperlukan berkaitan dengan penggunaan dana kas kecil tersebut, dengan metode imprest dan fluktuasi, adalah sebagai berikut:[15]
Tanggal
Imprest
Fluktuasi
2006
Feb
1
Kas kecil 1.500.000
Kas                    1.500.000
(mencatat pembentukan kas kecil)
Kas Kecil 1.500.000
Kas                    1.500.000
(mencatat pembentukan kas kecil)

4
BPKK
Beban mtrai & prngko 225.000
Kas kecil               225.000
(mencatat pembelian peranko & materai)

10
BPKK
Beban prbaikn kndrn 600.000
Kas kecil               600.000
(mencatat beban reparasi kendaraan)

12
BPKK
Beban bahan bakar 275.000
Kas kecil 275.000
(mencatat beban bahan bakar)

16
Macam2 beban 1.100.000
Kas                  1.100.000
(mencatat pengisian kembali kas kecil)
Kas Kecil 1.500.000
Kas                  1.500.000
(mencatat pengisian kembali kas kecil)

17
BPKK
Beban prbaikan gdung 850.000
Kas kecil                   850.000
(mencatat beban perbaikan bangunan)

25
BPKK
Perlengkapan kntor 450.000
Kas kecil                   450.000
(mencatat pembelian perlengkapan kantor)
Mar
1
Macam2 beban 1.300.000
Kas                    1.300.000
(mencatat pengisian kembali kas kecil)
Kas kecil 1.300.000
Kas                      1.300.000
(mencatat pengisian kembali kas kecil)
       Sumber: Rudianto. Pengantar Akuntansi.(Jakarta: Erlangga, 2005)
       Seperti terlihat di dalam jurnal di atas, bahwa pada saat pembentukan kas kecil pertama kali, baik metode imprest maupun fluktuasi memiliki jurnal yang sama. Di mana rekening kas kecil di debet sebesar Rp. 1.500.000. dan rekening kas dikredit dengan jumlah yang sama.[16]
       Tetapi pada tanggal berikutnya, di mana kas kecil tersebut mulai dipergunakan untuk membayar berbagai keperluan perusahaan, metode imprest tidak menjurnal sama sekali, melainkan hanya mengumpulkan bukti- bukti transaksi, dalam hal ini kami contohkan bukti berupa BPKK. Sedangkan metode fluktuasi mencatat setiap transaksi pemakaian kas kecil satu persatu.[17]
       Pada saat pengisian kembali kas kecil, yaitu pada tanggal 16 Februari, metode imprest mendebet rekening macam- macam beban sebesar total pengeluaran kas kecil selama dua minggu, yaitu sebesar Rp.1.100.000 dan mengkredit rekening kas sebesar jumlah yang sama. Sedangkan metode fluktuasi mendebet rekening kas kecil sebesar Rp. 1.500.000 ( yaitu sebesar pengisian pertama kali) dan mengkredit rekening kas sebesar jumlah yang sama.[18]

Tanggal
Keterangan
Imprest
Fluktuasi
2006



Februari



1
Pembentukan kas kecil
1.500.000
1.500.000
4
Pembelian materai dan perangko
(225.000)
(225.000)
10
Membayar beban perbaikan kendaraan
(600.000)
(600.000)
12
Membeli bensin, solar, dan minyak
(275.000)
(275.000)
16
Pengisian kembali kas kecil
1.100.000
1.500.000
17
Membayar beban perbaikan gedung kantor
(850.000)
(850.000)
25
Membeli perlengkapan kantor
(450.000)
(450.000)
Maret



1
Pengisian kembali kas kecil
1.300.000
1.500.000




Saldo
1.500.000
2.100.000
       Sumber: Rudianto. Pengantar Akuntansi.(Jakarta: Erlangga, 2005)
       Demikian pula pada tanggal 1 Maret 2006, metode imprest akan mendebet rekening macam- macam beban sebesar Rp. 1.300.000 (yaitu jumlah pengeluaran kas kecil selama dua minggu) dan mengkredit rekening kas dengan jumlah yang sama. Sedangkan metode fluktuasi mendebet rekening kas kecil tetap sebesar Rp. 1.500.000.dan mengkredit rekening kas sebesar jumlah yang sama.[19]
       Saldo kas kecil pada tanggal 1 Maret 2006, sesaat setelah pengisian kembali kas kecil, akan terlihat berbeda, antara menggunakan metode imprest dengan metode fluktuasi, seperti terlihat didalam daftar di atas. Jika digunakan metode imprest, saldo kas kecil pada saat itu sebesar Rp. 1.500.000.Sedangkan jika digunakan metode fluktuasi saldo kas kecil sebesar Rp. 2.100.000.[20]

C.    Rekonsiliasi Bank
Rekosiliasi bank adalah menjelaskan sebab-sebab terjadinya perbedaan antara catatan perusahaan dengan laporan bank, dan menentukan jumlah saldo rekening giro yang sesungguhnya pada waktu tertentu[21].
Pembukuan perusahaan dan laporan bank seringkali menunjukan yang berbeda, perbedaan ini biasanya terjadi karena perbedaan waktu pencatatan
Beberapa penyebab perbedaan antara seldom menurut pembukuan perusahaan dengan laporan bank adalah sebagai berikut :
1.       bank belum mencatat transaksi tertentu

a)       Setoran perjalanan. Perusahaan telah mencatat setoran perjalanan tetapi  bank belum mencatatnya  kerena menungkinan-kemungkina berikut :
·         Bank membuat aturan intern bahwa setoran  yang dilakukan pada akhir bulan akan dicatat selang satu hari kerja berikutnya.
·         Bank membuat aturan intern bahwa setoran diatas pukul 12:00 baru dicatat selang satu hari kerja berikutnya
·         Setoran melalui ATM dicatat selang satu hari kerja berikutnya
·         Setoran dengan prosedur kliring dicatat dengan selesainya proses tersebut. Jika kliring selesai pada pukul 10:00, sehingga setoran dengan prosedur kliring yang diterima bank setelah pukul 10:00 baru dapat diselesaikan pada hari kliring berikutnya.[22]
 Prosedur pemeriksaan untuk menemukan setoran perjalanan adalah membandingkan semua setoran menurut slip setoran dengan setoran yang Nampak dalam laporan bank. Setoran perusahaan yang tidak tampak dilaporan bank adalah setoran dalam perjalanan.
b)      Cek dalam perjalan (cek masih beredar). Cek yang ditarik dantelah dibukukan oleh perusahaan, tetapi bank belum mencatatnya.

2.      Perusahaan belum mencatat transaksi tertentu.

a)      Penerimaan kas melalui bank. Bank kadang-kadang melkukan penerimaan kas untuk dibukukan kedalam rekening giro perusahaan, tetapi transaksi semacam ini terkadang belum diketahui oleh perusahaan, sehingga perusahaan belum mencatatannya.
b)      Biaya administrasi bank. Bank biasanya membebankan sejumlah biaya untuk menangani transaksi-transaksi yang dilakukan oleh pemegang giri. Pada umumnya biaya administrasi bank baru diketahui setelah perusahaan menerima laporan bank.
c)      Pendapatan bunga atau jasa giro. Jumlah bunga atas saldo giro yang menjadi pendapatan perusahaan biasanya baru diketahui setelah perusahaan menerima laporan bank.
d)     Cek kosong dari konsumen atau debitur. Apabila perusahaan menerima cek kosong biasanya hal itu baru diketahui pada saat bank menerima laporan bank.
e)      Cek dikembalikan kepada penyetor karena alasan lain( bukan cek kosong ). Bank terkadang mengembalikan cek kepada penyetor karena alasan-alasanberikur :
·         Rekening penarik telah ditutup.
·         Cek telah kadaluwarsa.
·         Tandatangan yang terdapat pada cek tidak sah.
·         Terdapat kesalahan dalam penulisan cek.

3.      Bank atau perusahaan ( atau kedua-duanya) telah melakukan kesalahan pencatatan[23]

D.    Tahap-tahap penyusunan rekonsiliasi bank

1.      Mulailah dengan saldo yang tercantum dalam laporan bank dan saldo yang tercantum dalam rekening  kas perusahaan (saldo per buku)
2.      Tambahkan atau kurangkan pada saldo per bank, hal-hal yang tercantum dalam pembukuan perusahaan tetapi tidak tercantum dalam laporan bank
a)      Tambahkan setoran dalam perjalanan pada saldo per bank. Setoran dalam perjalanan adalah setoran yang tercantum dalam perusahaan, tetapi tidak tercantum sebagai setoran dalam laporan bank pada bulan yang bersangkutan.
b)      Kurangkan cek dalam perjalanan dari saldo per bank. Cek dalam perjalanan adalah cek yang telah dikeluarkan oleh perusahaan tetapi tidajk Nampak dalam laporan bank. Pembandingan ini juga merupakan pengujian bahwa semua cek yang telah dibayar oleh bank adalah merupakan cek perusahaan yang sah dan telah dicatat dengan benar, baik oleh bank meupun perusahaan.
3.      Tambahkan atau kurangkan pada saldo per buku, hal-hal yang tercantum dalam laporan bank tetapi tidak tercatat dalam pembukuan perusahaan :
a)      Tambahkan pada saldo perbuku
·         Penerimaan-penerimaan kas langsung melalui bank
·         Pendapatan bunga atas saldo giro di bank
b)      Kurangkan dari saldo per buku
·         Biaya administrasi bank
·         Biaya pencetakan cek
·         Pengurangan yang telah dilakukan oleh bank lainnya (misalnya pengurangan karena adanya pengembalian cek kosong atau cek yan gtelah lewat waktu)
4.      Hitunglah saldo per bank yang telah disesuaikan dan saldo perbuku yang telah disesuaikan. Kedua saldo itu harus sama
5.      Buat jurnal untuk setiap hal pada langkah-langkah diatas yaitu hal-hal yang tercantum pada sisi per buku
6.      Perbaiki kesalahan yang terdapat dalam pembukuan perusahaan dan memberitahukan ke bank jika benk telah melakukan kesalahan[24]

Contoh pembuatan rekonsiliasi bank

Misalkan PT. Jaya memiliki rekening giro di Bank SM. Saldo per 31 Januari menurut catatan perusahaan Rp.3.294.210,00 sedangkan menurut catatan bank Rp. 5.388.480,00. Setelah dilakukan pembandingan sesuai dengan prosedur yang telah diuraikan diatas, ditemukan hal-hal sebagai berikut :

1.      Setoran tanggal 30 januari sebesar RP 1.591.630,00 tidak tercatum dalam laporan bank
2.      Bank telah melakukan kesalahan pembukuan. Yaitu cek yang ditarik oleh PT Bersama sebesar Rp 100.00,00 (No. cek 656) teleh dikurangkan pada rekening giro PT Jaya
3.      Lima lembar cek yang ditarik pada bulan januari dan telah dicatat dalam jurnal pengeluaran kas oleh PT. Jaya, belum di bayar oleh bank :

       No. cek                         Tanggal                          jumlah
          337                              27 jan                           286.000
          338                              28 jan                           319.470
          339                              28 jan                            83.000
          340                              29 jan                           203.140
          341                              30 jan                           458.530

4.      Bank telah menerima pelunasan selembar wesel tagih milik PT Jaya sebesar 2.114.000 (termasuk di dalamnya pendapatan bunga sebesar 214.000). penerimaan pelunasan wesel ini belum dicatat dalam juranal penerimaan kas oleh PT Jaya
5.      Laporan bank menunjukan bahwa bank telah member bunga pada PT Jaya sebesar 28.010
6.      Cek No.333 sebesar 150.000 yang dibayar kepada PT Merapi telah dicatat dalam jurnal pengeluaran kas loeh PT Jaya dengan jumlah 510.000, sehingga saldo perbuku menjadi terlalu rendah 360.000
7.      Biaya administrasi bank bulan januari adalah 14.250
8.      Laporan benk menunjukan adanya pengembalian cek yang tidak cukupa dananya (cek kosong) sbesar 52.000. cek tersebut dari PT Melati

Perusahaan tidak perlu merekonsiliasi hal-hal yang Nampak pada sisi bank kerena hal-hal tersebut telah dibukukan dalam pembukuan perusahaan.
Berdasarkan rekonsiliasi bank tersebut menunjukkan  bahwa PT Jaya perlu membuat jurnal penyesuaian sebagai berikut  pada tanggal 31 januari untuk mengoreksi saldo rekening kas pada tanggal tersebut
Dalam hal terjadi pengembalian cek kosong perusahaan harus membuat jurnal penyesuaian dengan mendebet rekening piutang dan mengkredit rekening kas. Ini dilakukan karena pada waktu perusahaan menerima cek dari PT melati , perusahaan mencatat penerimaan cek tersebut dengan mendebet rekening kas dan mengkredit rekening piutang dagang[25]
E.     Rekonsiliasi bank delapan kolom
Terkadang diperlukan rekonsiliasi delapan kolom untuk merekonsiliasi saldo awal, penerimaan selama selama satu periode, pengeluaran selama satu periode, dan saldo akhir yang digunakan oleh pemeriksa intern atau ekstern apabila pengendalian intern kas dianggap lemah. Sesuai dengan yang direkonsiliasi, rekonsiliasi delapan kolom menggunakan kolom-kolom berikut :
·         Kolom pertama (saldo awal) yang merupakan rekonsiliasi saldo akhir dari periode sebelumnya
·         Kolom kedua ( menambahkan penerimaan)
·         Kolom ketiga (mengurangkan dengan pengeluaran)
·         Kolom keempat (saldo akhir, jumlah dari kolom pertama, kedua dan ketiga)
Contoh rekonsiliasi data PT Eria Ayu sebagai berikut :
1.      Menurut buku kas PT eriya ayu bulan nopember saldo awal 8.400, penerimaan 193.600, pengeluaran 169.400 dan saldo akhir 32.000
2.      Menurut laporan bank bulan nopember saldo awal 10.000, penerimaan 190.000, pengeluaran 180.000, saldo akhir 20.000
3.      Setoran dalam perjalanan bulan oktober 2.000 dan bulan nopember 3.000
4.      Cek yang masih beredar  bulan oktober 4.000 dan bulan nopember 5.000
5.      Cek kosong bulan nopember 15.000. ketika menerima setoran bank mencatat sebagai tambahan setoran perusahaan. Setelah mengetahui kosong bank menganggapnya sebagai pengeluaran perusahaan.
6.      Biaya bulan oktober 1.200 dan bulan nopember 1.400
7.      Jasa giro bulan oktober 800 dan November 900
8.      Perusahaan salah catat cek untuk membayar biaya asuransi, seharusnya 14.800 tetapi tercatat 18.400
9.      Bank salah catat setoran perusahaan, seharusnya 19.600 tetapi tercatat 16.900

Penjelasan untuk rekonsiliasi delapan kolom adalah sebagai berikut :
1.      Setoran dalam perjalanan bulan oktober menambah saldo awal bank karena bank belum memasukkannya serta laporan tersebut mengurangi penerimaan bank, karena bank mencatatnya sebagai penerimaan bulan ini padahal penerimaannya bulan lalu
2.      Setoran dalam perjalanan bulan nopember menambah rekening bank karena bank belum mencatatnya sebagai penerimaan bulan ini. Kemudian setoran tersebut menambah saldo akhir bank Karen asaldo akhir bank belum memperhitungkan setoran tersebut.
3.      Cek beredar bulan oktober mengurangi saldo awal bank karena bank belum menganggapnya sebagai pengeluaran bulan lalu sehingga saldo awalnya belum dikurangi dengan jumlah itu. Selain itu cek yang beredar tersebut engurangi pengeluaran bank karena bank menganggapnya sebagai pengeluaran bulan ini padahal cek tersebut adalah pengeluaran bulan lalu.
4.      Cek beredar bulan nopember menambah pengeluaran bank, sebab bankbelum mencatatnya sebagai pengeluaran bulan ini,selanjutnya cek tersebut mengurangi saldo akhir bank, sebab saldo akhir bank belum memperhitungkan cek tersebut
5.      Selisih karena bank mencatat setoran bulan nopember setlalu rendah menambah penerimaan bank karena bank kurang mencatatnya. Selain itu kekurangan ini menambah saldo akhir bank, Karen saldo akhir tersebut belum memperhitungkan jumlah ini.
6.      Biaya bank bulan oktober mengurangi saldo awal perusahaan karena saldo awal tersebut belum pemperhitungkan pengurangan dari biaya bank ini. Dan biaya bank tersebut mengurangi pengeluaran perusahaan Karena perusahaan telah menganggapnya biaya bulan lalu sebagai pengeluaran bulan ini
7.      Biaya bank bulan nopember menambah pengeluaran perusahaan bulan ini karena perusahaan belum memasukkannya sebagai pengeluaran bulan ini. Dan biaya bank tersebut mengurangi saldo akhir perusahaan karena saldo akhir perusahaan belum memperhitungkan biaya tersebut
8.      Cek kosong bulan nopember menambah pengeluaran perusahaan bulan ini karena perusahaan belum menganggapnya sebagai pengeluaran bulan ini. Cek kosong tersebut juga mengurangi saldo akhir perusahaan karena saldo akhir tersebut belum memperhitungkan pos ini. Dicaontoh ini mula-mula bank mencatat cek yang belum sidketahui kosong sebagai setoran. Setelah mengetahui bahwa cek itu kosong, abnk mencatatnya sebagai pengeluaran dibulan berikutnya.
9.      Jasa bank bulan oktober menambah saldo awalperusahaan karena saldo awal perusahaan belum menghitung jumlah ini. Di samping itu, jasa bank bulan oktober mengurangi penerimaan perusahaan bulan ini karena perusahaan terlanjur menganggapnya sebagai penerimaan bulan ini
10.  Jasa bank bulan nopember dianggap sebagai penambah penerimaan perusahaan bulanini, karena perusahaan belum mencatatnya sebagai penerimaan bulan ini. jasa Bank juga menambah saldo akhir perusahaan karena saldo akhir perusahaan belum memperhitingkan jumlah ini.
11.  Salah catat perusahaan terhadap cek untuk membayar asuransi dengan selisih 3.600 mengurangi pengeluaran perusahaan Karen perusahaan mencatata pengeluaran lebih besar. Karena itulah jumlah tersebut menambah saldo akhir perusahaan karena saldo akhir tersebut belum memperhitungkan jumlah ini.[26]





















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam sebuah perusahaan terdapat harta kekayaan yang dimiliki perusahaan tersebut, dan juga setiap perusahaan pastilah memiliki Kas yang digunakan untuk penyelesaian pembayaran suatu teransaksi. Dan Sistem Pengendalian Intern sangat berkaitan erat dengan keadaan kas, terlebih lagi dengan Kas kecil. Hal tersebut sesuai dengan tujuan adanya sistem Pengendalian Intern yang sudah sangat jelas tertulis dalam pengertiaannya, yaitu Perencanaan suatu organisasi dan semua metode pelaksanaan dan pengukurannya yang diterapkan di dalam usaha untuk melindungi hartanya, memeriksa ketepatan dan kebenaran data- data akuntansi, memperhatikan efesiensi pelaksanaan, dan mendorong semua pegawai untuk menaati kebijaksanaan- kebijaksanaan manajemen. Dari pengertiannya tersebut terdapat empat tujuan adanya Sistem Pengendalian Intern, yaitu : Menjaga kekayaan perusahaan, Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, Mendorong efesiensi, dan Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Sebuah perusahaan, biasanya guna menjaga keamanan keadaan kas, suatu perusahaan menyimpan kas mereka di Bank. Namun seringkali terjadi perselisihan pencatatan antara pencatatan kas yang dilakukan oleh pihak perusahan dengan pihak bank. Hal tersebut dikarenakan pihak Bank ataupun Perusahaan belum mencatat suatu transaksi tertentu, ataupun karena terjadinya kesalahan pencatatan diantara kedua belah pihak. Sehingga perlunya dilakukan Rekonsiliasi untuk membenarkan pencatatan kas tersebut, baik catatan yang ada di Bank maupun catatan yang ada pada pihak perusahaan sendiri.
B.     Kritik dan Saran
sebelumnya kami ucapkan puji syukur atas terselesaikannya makalah kami ini, namun terlepas dari itu semua, kami merasa makalah kami ini sangat banyak sekali kekurangan baik dari isi pembahasannya maupun dari segi tuisannya. Oleh karena itu kami memohon kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya, agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi dan dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

DAFTAR PUSTAKA
@     Ali Widjanarko, Tasnim. Prinsip- Prinsip Akuntansi. Erlangga .Jakarta: 1984
@     Jusuf, HAryono. Dasar-Dasar Akuntansijilid 2 edisi 6. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Yogyakarta:2005
@     Mulyadi.Sistem Akuntansi. Salemba empat. Jakarta:  2001
@     Rudianto. Pengantar Akuntansi. Erlangga. Jakarta: 2005
@     Slamet sugiri, dan sumiyana. Akuntansi Keuangan Menengah Buku 1Edisi Revisi. UPP AMP YKPN. Yogyakarta: 2005



[1]Slamet sugiri, dan sumiyana.Akuntansi Keuangan Menengah Buku 1. (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005). h. 107
[2]Tasnim Ali Widjanarko. Prinsip- Prinsip Akuntansi.(Jakarta:Erlangga,1984).h. 344
[3]Mulyadi.Sistem Akuntansi. (Jakarta: Salemba empat, 2001).h. 163
[4]Ibid
[5]Ibid. h. 164
[6]Slamet Sugiri, dan Sumiyana. Akuntansi Keuangan Menengah Edisi Revisi. ( Yogyakarta : UPP AMP YKPN, 2005).h. 109
[7]Ibid
[8] haryono.jusuf .dasar-dasar akuntansi. Jilid 2.(Yogyakarata:STIE YKPN,2005) hlm.4
[9]Rudianto.Pengantar Akuntansi.(Jakarta: Erlangga, 2005).h. 200
[10]Ibid
[11] Haryono. jusuf loc.cit.  hlm.30
[12]Ibid. h. 200- 201
[13]Ibid. h. 201
[14]Ibid
[15]Ibid
[16]Ibid. h. 202
[17]Ibid
[18]Ibid
[19]Ibid.h. 202- 203
[20]Ibid
[21] Haryono,jusuf. Dasar-dasar Akuntansi jilid 2. (yogyaarta : STIE YKPN, 2005) hlm.21
[22] Slamet sugiri, dan sumiayana. Akuntansi Keuangan Menengah. (Yogyakarta: AMP YKPN,2005) hlm.114
[23] Haryono.Jusuf, loc.cit. hlm.22
[24] Ibid. hlm.23
[25] Ibid, hlm.25-28
[26] Slamet sugiri, dan sumiayana. Akuntansi Keuangan Menengah. (Yogyakarta: AMP YKPN,2005) hlm 117-124

1 komentar: