Senin, 22 September 2014

Al-Qur'an Bukanlah Produk Budaya

Oleh : Irhami
I.                   Pendahuluan

Seandainya dia (Muhammad) membuat sebagian perkataan atas (nama) kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya, maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi  (QS al-Haqqah [69]: 44-7).

Al-Qur’an diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Secara historis, ia tidak diturunkan 30 juz sekaligus, tetapi diturunkan selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Walaupunmasa turunnya wahyu sudah selesai dan al-Qur’an tidak mungkin lagi bertambah ayatnya, namun ia tidak akan pernah lekang dimakan oleh zaman.
Tidak dapat disangkal oleh siapapun yang memiliki objektivitas bahwa kitab suci al-Qur`an memiliki keistimewaan-keistimewaan. Keistimewaan tersebut diakui oleh kawan dan lawan sejak dahulu hingga kini.

Bahkan yang tidak mempercayainya sebagai firman Allah pun sejak masa Nabi Muhammad SAW mengakui keistimewaannya, tetapi mereka tidak tahu persis apa yang harus mereka katakan tentang al-Qur`an setelah mereka enggan mengakuinya sebagai firman Allah. Sihir?Syair?Perdukunan?Bermacam-macam pendapat yang kesemuanya mengingkarinya sebagai wahyu namun menyadari keistimewaannya. Kita sadar bahwa kemunculan al-Qur`an di tengah-tengah masyarakat Arab pada lima belas abad yang lalu, telah menimbulkan pengaruh yang sedemikian besar dalam kehidupan umat manusia hingga kini.
Dalam kesempatan kali ini penulis akan menyajikan pendapat inteletualis, orientalis dan juga pendapat para ulama terhadap status al-Qur`an dalam ruang lingkup budaya Arab saat kemunculannya yang pertama sampai menyebar keseluruh dunia hingga sekarang.
Penulis menyadari bahwa tulisan pendek ini tidak akan mampu menjabarkan dengan sempurna tentang pemikiran dan pendapat para intelektual dan ulama tersebut, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi batu loncatan untuk lebih mendalami tentang tema yang penulis angkat.

II.                Pembahasan
A.     Al-Qur`an Sebagai Produk Budaya
Sebagaimana diketahui bersama,perbincangan mengenai al-Qur’an tidak pernah habis, terutama ketika dikaitkan dengan permasalahan hidup.Keunikan al-Qur’an inilah yang membuat para pecinta kesesatan dan kebatilan mengerahkan segala usahanya demi memuaskan nafsunya untuk mengotak-atik, merekonstruksi, dan mendekonstruksi segala hal yang sebenarnya bukan persoalan yang layak untuk diperdebatkan.Orang-orang seperti itu bukan berasal dari kalangan orientalis Barat dan non Muslim saja, tetapi banyak juga dari kalangan umat Islam.
Di zaman yang serba modern ini, banyak sekali karya-karya edisi kritis terhadap al-Qur’an bermunculan. Konon “katanya” karya-karya tersebut bersifat “objektif”, “modern”, dan mampu membuat umat Islam terbebas dari kejumudan. Namun sebaliknya, upaya demikian ternyata tidak bisa memberikan pencerahan terhadap umat Islam, tetapi justru membawa umat Islam jatuh ke jurang kekufuran, kekeliruan, dan kesesatan.Akibatnya, otentisitas al-Qur’an diragukan.Sendi-sendi agama pun akhirnya runtuh.[1]
Di antara pemikir modernis terdepan yang berusaha untuk mendekonstruksi al-Qur’an adalah Nasr Hamid Abu Zayd.Pemikirannya menjadi idola sehingga dijadikan referensi para aktivis Islam Liberal—baik dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dosen, maupun mahasiswa.
Abu Zayd dilahirkan di Desa Qahafah dekat kota Thantha Mesir pada 10 Juli 1943. Ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Thantha. Setelah lulus dari Sekolah Teknik di Thantha pada tahun 1960, dia bekerja sebagai seorang teknisi elektronik pada Organisasi Komunikasi Nasional di Kairo sampai tahun 1972. Pada tahun 1968 ia meneruskan studinya di Jurusan Bahasa dan sastra Arab di Universitas Kairo. Dia masuk kuliah pada malam hari dan siangnya dia tetap bekerja.Kemudian studinya diselesaikan pada 1972 dengan predikat cum laude. Pada tahun 1975 ia mendapat beasiswa dari Ford Foundation untuk melakukan studi selama dua tahun di American University di Kairo. Dua tahun kemudian dia meraih gelar MA dari Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Kairo dengan predikat cum laude dengan tesis yang berjudul, “Rasionalisme dalam Tafsir: Sebuah Studi tentang Problem Metafor Menurut Mu‘tazilah”. Pada tahun 1981, ia juga meraih gelar PhD dalam studi Islam dan Bahasa Arab dari Jurusan yang sama dengan predikat cum laude dengan disertasi yang berjudul, “Filsafat Ta’wil: Studi Hermeneutika al-Qur’an menurut Muhyiddin ibn ‘Arabi” Nasr Hamid Abu Zayd kemudian hari  divonis Murtad oleh Mahkamah Agung Mesir tahun 1996.[2]
Abu Zayd berpendapat bahwa hakikat teks al-Qur’an adalah produk budaya, teks manusiawi, teks historis, dan teks linguistik.Terma-terma ini didasari atas kenyataan bahwa teks muncul dalam sebuah struktur budaya tertentu, sehingga ditulis kepada aturan-aturan budaya tersebut, di mana bahasa merupakan sistem pemaknaannya yang sentral. Teks al-Qur’an tegasnya bersifat ilahiyah, namun ia menjadi sebuah konsep yang relatif dan berubah ketika ia dilihat dari perspektif manusia; ia menjadi teks manusiawi.[3]
Sebenarnya bualan Abu Zayd Nashr Hamid tidaklah baru sama sekali. Para orientalis sudah lama berusaha menolak otensitas alqur’an sebagai wahyu Allah SWT. Jika dulu mereka menyatakan bahwa Alqur’an karangan Muhammad maka beberapa orientalis sekarang ini seperti Montgomery watt dan WC smith membual Alqur’an adalah Kalam Tuhan dansekaligus kata-kata muhammad. 


B.     Al-Quran Sebagai Kalamullah

Menyikapi pernyataan Abu Zayd di atas, kita  harus bertanya, adakah di antara para ulama mu’tabar (klasik ataupun kontemporer) yang memiliki pemahaman sama seperti Abu Zayd.
Ulama tersebut penting untuk dijadikan rujukan, sebab mereka memiliki kepakaran dan otoritas keilmuwan.Karya-karya besar dan berjilid-jilid yang ditulis oleh mereka menjadi bukti tentang hal tersebut.Mari kita lihat bagaimana mereka memahami al-Qur’an.
Al-Qur’an dalam pandangan Syeikh Muhammad Rasyid Ridha adalah kalamullah yang diturunkan berbahasa Arab kepada Nabi SAW.Sedangkan Imam al-Jurjani memiliki pandangan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi SAW, termaktub di dalam mushaf dan sampai kepada kita melalui periwayatan yang mutawatir[4]
Imam al-Zurqani berpendapat bahwa al-Qur’an adalah kalamullah, dan kalamullah berbeda dengan kalam manusia.Al-Nasafi mendefinisikan al-Qur’an sebagai kalamullah bukan makhluq (sesuatu yang diciptakan), yang dapat dibaca dengan lisan, dihafal (terpelihara) di dalam dada, dan tertulis dalam mushaf.[5]
Imam al-Zarkasyi mendefinisikan al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi SAW untuk dijelaskan pesan-pesannya dan dijadikan mu‘jizat.[6]
Adapun al-Qur’an dalam pandangan Ali Shabuni adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi SAW untuk membenarkan berita yang dibawa oleh Nabi SAW, dan adil atas apa yang telah ditentukan dan diputuskan.[7]
Begitu juga dengan Syaikh Yusuf al-Qaradhawi yang mendefinisikan al-Qur’an sebagai kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dihafal di dalam dada, yang dapat dibaca dengan lisan, ditulis dalam mushaf yang dilingkari dengan kemuliaan yang tidak ada kebatilan, baik di awalnya maupun di akhirnya, diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
Pandangan para ulama di atas, baik klasik maupun kontemporer, sebenarnya satu dan memiliki tujuan yang sama. Domain al-Qur’an menurut mereka tidak terlepas dari kalamullah yang diturunkan kepada Nabi SAW dan berbahasa Arab.Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak ada satu pun di antara mereka yang mendefinisikan al-Qur’an bukan pada tempatnya, terutama memandangnya sebagai teks manusia atau pun hasil produk budaya.
Siapa pun yang ingin berinteraksi dengan al-Qur’an, ada rambu yang telah ditetapkan oleh para ulama dan harus ditaati bersama: pertama, senantiasa memposisikan al-Qur’an sebagai kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita melalui periwayatan yang mutawatir. Kedua, senantiasa memposisikan al-Qur’an yang diturunkan dalam bahasa Arab Jika ada orang yang melanggar kedua rambu tersebut, kajiannya dapat dikategorikan menyimpang dan diragukan keilmiahannya.[8]


C.     Bukti Bahwa Al-Quran Kalamullah dan Bukan Produk Budaya
1.      Pemberitaan Gaib
Al-Qur`an mengungkap sekian banyak hal gaib. Al-Qur`an mengungkap kejadian masa lampau yang tidak diketahui lagi oleh manusia karena masanya telah demikian lama Sebagaimana diketahui, hampir sepertiga isi al-Qur`an memaparkan tentang kisah kejadia masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap ummat. Al-Qur`an menceritakan semua keadaan mereka dengan gaya bahasa yang sangat menarik dan mempersona.[9]
Sebagai mukmin sejati, kita mengimani bahwa al-Qur`an adalah kalamullah atau perkataan Allah.Apa yang disebutkan dari kisah-kisah itu semuanya adalah benar dan mengandung fakta sejarah. Ia bukanlah dongen atau khayalan yang dipaksakan agar memikat para pembaca dan pendengarnya.
Peristiwa gaib masa lampau yang diungkapkan oleh al-Qur`an misalnya adalah peristiwa tenggalamnya Fir`aun dan diselamtkannya badannya. Atau peristiwa ashabul kahfi yaitu sekelompok pemuda yang bersembunyi di gua dan tertidur selama tiga ratus tahun lebih.
Dalam Al-Quran ditemukan sekitar tiga puluh kali Allah SWT menguraikan kisah Musa dan Fir`aun, suatu kisah yang tidak dikenal masyarakat Arab waktu itu kecuali umaat Yahudi melalui Kitab Perjanjian Lama. Tetapi satu hal yang menakjubkan adalah bahwa Nabi Muhammad melalui Al-Quran telah mengungkapkan suatu perincian yang tidak diungkap oleh satu kitab pun sebelumnya, bahkan tidak diketahui kecuali oleh orang yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut yaitu pada abad kedua belas SM atau sekitar 3.200 tahun yang lalu.
Allah berfirman :

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.(QS Yunus [10]: 90-92).

Memang orang mengetahui bahwa Fir`aun tenggelam dilaut merah ketika mengejaar Nabi Musa dan kaumnya tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi yang hidup dan generasi yang sesudahnya merupakan sasuatu yang tidak diketahui oleh siapapun pada masa Nabi Muhammad SAW bahkan tidak disinggung oleh Kitab Perjanjian Lama dan Baru.
Namun pada 1896 purbakalawan Loret menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Wadi al-Muluk (lembah para raja) yang berada didaerah Thaba, Luxor diseberang sungai Nil, Mesir.Kemudian pada 8 Juli 1907, Eliot Smith membuka pembalut-pembalut tersebut ternyata badan Fir`aun tersebut masih dalam keadaan utuh.
Pada Juni 1975 ahli bedah Prancis Maurice Bucaille mendapat izin untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang mumi tersebut dan menemukan bukti bahwa Fir`aun meninggal dilaut dari bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya. Bucaille akhirnya berkesimpulan
Alangkah agungnya contoh yang diberikan Al-Qur`an tentang tubuh Fir`aun yang sekarang berada diruang mumi museum Mesir di Kota Kairo.

Selain berita tentang masa lalu Al-Qur`an juga mengungkap peristiwa masa datang yang belum diketahui manusia seperti adanya berita kemenangan Romawi setelah kekalahannya. 
Firman Allah :
Alif laam Miim, telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. dalam beberapa tahun lagi. bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya.dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.(QS ar-Rum [30]: 1-5).
Bangsa Rumawi adalah satu bangsa yang beragama Nasrani yang mempunyai kitab suci sedang bangsa Persia adalah beragama Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). kedua bangsa itu saling perang memerangi. ketika tersiar berita kekalahan bangsa Rumawi oleh bangsa Persia, Maka kaum musyrik Mekah menyambutnya dengan gembira karena berpihak kepada orang musyrikin Persia. sedang kaum muslimin berduka cita karenanya. kemudian turunlah ayat ini dan ayat yang berikutnya menerangkan bahwa bangsa Rumawi sesudah kalah itu akan mendapat kemenangan dalam masa beberapa tahun saja. hal itu benar-benar terjadi. beberapa tahun sesudah itu menanglah bangsa Rumawi dan kalahlah bangsa Persia. dengan kejadian yang demikian nyatalah kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Nabi dan Rasul dan kebenaran Al Quran sebagai firman Allah.

2.      Isyarat Ilmiah
Al-Qur`an berbicara panjang lebar tentang manusia dan salah satu yang diuraikannya adalah persoalan reproduksi manusia, serta tahap-tahap yang dilaluinya hingga tercipta sebagai manusia ciptaan tuhan yang lain dari yang lain. Firman Allah antara lain :

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?. Bukankah Dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.(QS al-Qiyamah [75]: 36-39).

Ayat al-Qiyamah tersebut secara tegas menyatakan bahwa nutfah merupakan bagian kecil dari mani yang dituangkan kedalam Rahim. Kata nutfah dalam bahasa Al-Qur`an adalah setetess yang dapat membasahi. Informasi Al-Qur`an tersebut sejalan dengan penemuan ilmiah pada abad kedua puluh ini yang menginformasikan bahwa pancaran mani yang menyembur dari alat kelamin pria mengandung sekitar dua ratus juta benih manusia, sedangkan yang berhasil bertemu dengan ovum hanya satu, itulah yang dimaksud Al-Qur`an dengan nutfah dari mani yang memancar.
Selain penciptaan manusia Al-Qur`an juga seringkali menceritakan tentang ihwal kejadian alam semesta antara lain melalui firman-Nya :
dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?(QS al-Anbiya [21]: 30).

Apa yang dikemukakan al-Qur`an tersebut kemudian dibuktikan dengan observasi Edwin P Hubble melalui teropong bintang raksasa pada tahun 1929 yang menunjukkan adanya pemuaian alam semesta yang berarti alam semesta berekspansi yang mana hal ini juga sejalan dengan firman Allah yang berbunyi :
dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya(QS adz-Zariyat [51]: 47).

Ekspansi itu menurut fisikawan Rusia George Gamow melahirkan sekitar seratus miliyar galaksi yang masing-masing rata-rata memiliki 100 miliar bintang.Tetapi sebelumnya apabila ditarik kebelakang, kesemuanya merupakan satu gumpalan yang terdiri dari neutron.Gumpalan itulah yang meledak dan dikenal dengan istilah Big Bang.[10]
Ayat tentang perluasan alam semesta tersebut juga terbukti kebenarannya dengan ditemukannya bukti perluasan galaksi oleh Edwin P Hubble tadi, walaupun pada awalnya penemuan tersebut dianggap sebagai suatu kesalahan tetapi lama kelamaan ia diterima oleh ilmuan sehingga mereka menyatakan adanya apa yang dinamai dengan The Expanding Universe.[11]
Itulah yang kiranya di perintahkan Allah untuk diperhatikan dalam surah Al-Ghasyiah :Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan?(QS al-Ghasyiyah [88]: 17-18).



3.      Aspek Kebahasaan
Sebenarnya orang –orang Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Qur`an adalah masyarakat yang paling mengetahui keunikan dan keistimewaan Al-Qur`an serta ketidakmampuan manusia untuk menyusun semacamnya. Tetapi, sebagian mereka tidak dapat menerima Al-Qur`an karena pesan yang dikandungnya merupakan sesuatu yang baru.
Sebelum seseorang terpesona dengan keunikan atau kemukjizatan pesan kandungan al-Qur`an terlebih dahulu dia akan terpukau dengan susunan kata dan kalimatnya  antara lain dari nada dan langgamnya walaupun bukan syair atau puisi, terasa dan terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritme.
Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata kata yang dipilih melahirkan keserasian bunyi dan kemudian kumpulan kata itu melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya. Misalnya surat An-Naziat.

Al-Qur`an juga mampu memuaskan para pemikir dan  orang kebanyakan jika membaca suatu artikel anda boleh jadi menilainya sangat dangkal sehingga sangat sesuai dengan selere pemikir dan ilmuan. Boleh jadi juga sebaliknya sehingga ia tidak dapat dikonsumsi oleh orang kebanyakan.
Al-Qur`an tidak demikian bisa jadi seorang awam akan merasa puas dan memahami ayat-ayat Al-Qur`an sesuai dengan keterbatasannya. Tetapi ayat yang sama dapat dipahami dengan luas oleh filosof dalam pengertian baru yang tidak terjangkau oleh orang kebanyakan. Sebagaimana firman Allah :
dan ia membuat perumpamaan bagi kami; dan Dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, Maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu". dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? benar, Dia berkuasa. dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.(QS Yaasin [36]: 78-82).

Selain itu, Jika Alqur’an teks bahasa arab biasa maka logikanya, Rasulullah SAW ahli di bidang tulisan dan bacaan, yang karena keahliannya itu bisa membawa perubahan sangat mendasar pada masyarakat Arab waktu itu. Padahal Rasulullah SAW itu ummi.[12]


III.             Kesimpulan
Sepanjang sejarah manusia, berbagai usaha yang mencoba untuk meragukan al-Qur’an sebagai kalamullah tidak pernah membuahkan hasil.Allah telah menyatakan, “Itulah al-Kitab (al-Qur’an), tidak ada keraguan di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 2).
Jika Alqur’an menjadi produk budaya ketika wahyu selesai, maka dalam rentang waktu wahyu pertama turun hingga wahyu selesai,Alqur’an berada dalam keadaan pasif karena ia produk budaya Arab jahiliyah. Namun, ini pendapat salah, karena ketika diturunkan secara gradual, Alqur’an ditentang dan menentang budaya Arab Jahiliyah saat itu.Jadi, Alqur’an bukanlah produk budaya,Alqur’an justru membawa budaya baru dengan mengubah budaya yang ada.Ia produsen budaya. 
 Jadi sekalipun Alqur’an disampaikan oleh Rasulullah SAW pada ummatnya pada abad ke-7 masehi, namun ini tidak serta merta mengindikasikan bahwa Aslqur’an terbentuk dalam situasi dan budaya yang ada pada abad ke-7 masehi.Alqur’an melampaui historitasnya sendiri karena Alqur’an dan ajarannya adalah trans-historis.Kebenarannya adalah sepanjang zaman.
Mari kita memahami,mengkaji  dan mengamalkan Islam secara kaffah sesuai dengan pemahaman yang shahih dari Al-qur’an dan Al-hadits.




[1]Mahmud Asy-Syafrowi, Inilah Bukti Kebenaran Al-Qur`an, (Yogyakarta, Mutiara Media, 2011), Hal, 24.
[2]Moch Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis al-Qur’an, (Bandung, Mizan Pustaka, 2003), hal.15-26.
[3]Nasr Hamid Abu Zaid, Menalar Firman Tuhan; Wacana Majaz Dalam Al-Qur`an Menurut Mu`tazilah, (Bandung, Mizan Pustaka, 2003), Hal 78.
[4]Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Qur`an Al-Karim 12, (Kairo, Dar Al-Fikr,Tanpa Tahun), Hal 12.
[5]Al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Kairo, Dar Al-Fikr, 1998), v.1, Hal. 28.
[6]Al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an,(Kairo, Dar Al- Fikr 1957),v.1, Hal. 318.
[7]Ali Shabuni, Shafwat al-Tafasir, (Kairo, Dar Al- Fikr) v.1, Hal. 273.
[8]Agus Purwanto, Ayat-ayat Semesta; Sisi Al-Qur`an yang Terlupakan, ( Bandung, Mizan Pustaka, 2010), Hal 220.
[9]Quraish Syihab, Mukjizat Al-Qur`an, (Bandung, Mizan Pustaka, 2008), Hal. 201.
[10]Agus Haryo Sudarmojo, Menyibak Rahasia Sains Bumi Dalam Al-Qur`an, (Bandung, Mizan Pustaka, 2009), Hal 65.
[11] Dale F Eickelman, Al-Qur`an Sains dan Ilmu Modern, (Yogyakarta, Eksis Offset, 2010), Hal 59.
[12]Nasarudin Umar, Tafsir Sosial, Mendialogkan Teks Dengan Konteks, (Yogyakarta, eLSAQ Press, 2005), Hal 75.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laporan Keuangan Koperasi

  apa itu laporan keuangan ??? Laporan keuangan  sangat penting bagi koperasi. Laporan ini merupakan hal yang terkait dengan berjalannya k...