Selasa, 31 Maret 2015

AYAT DAN HADIS PRODUKSI

A.    Pendahuluan
Dalam kehidupan perekonomian, pastilah tidak terlepas dari tiga kegiatan yaitu, produksi[1], distribusi[2] dan konsumsi[3] dimana ketiganya saling terkait satu sama lainnya.
Produksi adalah sebuah proses yang terlahir di muka bumi ini semenjak manusia menghuni planet ini. Produksi sangat prinsip dalam kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi. Sesungguhnya produksi lahir dan tumbuh dari menyatunya manusia dengan alam. Maka untuk menyatukan manusia dan ala mini, Allah telah menetapkan bahwa manusia berperan sebagai khalifah. Bumi adalah lapangan dan medan, sedang manusia adalah pengelola segala apa yang diungkapkan oleh para ekonom tentang modal dan sistem yang tidak akan keluar dari unsur kerja dan upaya manusia.
Al-Ghazali menguraikan faktor-faktor produksi dan fungsi produksi dalam kehidupan manusia. Dalam uraiannya beliau sering menggunakan kata kasab dan islah.[4] Produksi barang-barang kebutuhan dasar secara khusus dipandang sebagai kewajiban sosial (fard al kifayah). Jika sekelompok orang sudah berkecimpung dalam memproduksi barang-barang tersebut dalam jumlah yang sudah mencukupi kebutuhan masyarakat, maka kewajiban kaseleruhan masyarakat sudah terpenuhi. Namun, jika tidak ada seorang pun yang melibatkan diri dalam kegiatan tersebut atau jika jumlah yang diproduksi tidak mencukupi, maka semua orang akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat.[5]

Tanggung jawab manusia sebagai khalifah adalah mengelola resources yang telah disediakan oleh Allah secara efisien dan optimal agar kesejahteraan dan keadilan dapat ditegakkan. Satu yang tidak boleh dan harus dihindari oleh manusia adalah berbuat kerusakan dimuka bumi. Dengan demikian, segala macam kegiatan ekonomi yang diajukan untuk mencari keuntungan tanpa berakibat pada peningkatan utility atau nilai guna resource tidak disukai Islam.[6] Dr. Muhammad Rawwas Qalahji memberikan padanan kata “produksi” dalam bahasa Arab dengan kata al-intaj yang secara harfiyah dimaknai dengan ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdami muzayyajin min ‘anashir al-intaj dhamina itharu zamanin muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan pengabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas). Pandangan Rawwas di atas mewakili beberapa definisi yang ditawarkan oleh pemikir ekonomi lainnya.
Hal senada juga diutarakan oleh Dr. Abdurrahman Yusro Ahmad dalam bukunya Muqaddimah fi ‘Ilm al-Iqtishad al-Islamiy. Abdurrahman lebih jauh menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfaat (utility) yang diambil dari hasil produksi tersebut. Produksi dalam pandangannya harus mengacu pada nilai utility dan masih dalam bingkai nilai ‘halal’ serta tidak membahayakan bagi diri seseorang ataupun sekelompok masyarakat. Dalam hal ini, Abdurrahman merefleksi pemikirannya dengan mengacu pada Q.S An-Nahl: 69 “Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”
Dari pendapat pendapat diatas penulis dapat mendefinisikan bahwa produksi menurut Al Quran adalah mengadakan atau mewujudkan sesuatu barang atau jasa yang bertujuan untuk kemaslahatan manusia
Al-Qur’an dan Hadis sendiri menyebutkan beberapa ayat dan hadis yang berkaitan dengan produksi, maka dalam makalah ini akan disebutkan dan dijelaskan beberapa ayat dan hadis yang berkaitan dengan produksi tersebut.
B.     Al-Qur’an
Pada dasarnya terdapat beberapa ayat yang berkaitan dengan produksi ini, diantara adalah:
1.      Surah al-Nahl ayat 5-9 
“Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. dan (dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. dan Jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar)”
Secara umum ayat di atas menggambarkan potensi dan manfaat sumber daya alam terutama yang berbentuk bintang ternak dengan berbagai manfaat dan nilai bagi manusia. Di antara manfaatnya adalah dimakan dagingnya, selain itu juga kulit, tulang, dan bulunya binatang ternak itu dahulu berfungsi sebagai sarana transportasi dan alat angkut.[7]
Tafsir ayat:

Dia-lah Allah yang menciptakan binatang ternak – diantaranya unta, kuda, sapi, dan lembu – yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an semata-mata untuk kemaslahatan kamu (manusia). Dalam berbagai jenis binatang ternak itu ditemukan atau bahkan sejumlah (manfaat) antaranya sebagai sarana penghangat atau pemanas di saat-saat mengalami kedinginan di musim dingin. Dunia tekstil telah lama memproduksi pakaian maupun alat-alat tidur yang terbuat dari bulu-bulu hewan. Disinilah terletak hikmah dari penuturan Al-Qur’an dalam banyak hal benar-benar bersifat tafshili (rinci dan detail). Termasuk di dalamnya ayat yang menjelaskan prihal fungsi binatang yang tidak semata-mata dagingnya, tetapi juga yang lain-lainnya sebagaimana dalam surah Al-Nahl ketika menjelaskan kegunaan binatang.[8]

Dan di dalam binatang-binatang ternak itu juga terdapat begitu banyak keindahan yang sangat menyenangkan dan mengasyikan pemilik maupun pengembalanya, terutama tatkala mereka mengamat-amatinya dengan penuh penghayatan terhadap binatang ternak yang sehat, gemuk, berkulit bersih, dan bersuara yang penuh isyarat dan makna.

Dan kamu (manusia) menjadikan binatang ternak (berkaki empat) itu juga sebagai alat angkut, terutama dalam mengangkut barang-barang berat dalam jumlah yang banyak yang tidak mampu dipikul manusia. Terutama dimasa-masa itu Al-Qur’an diturunkan, hampir atau bahkan seluruh ekspedisi perdagangan mulai dari domestic hingga mobilisasi ekspor-impor, semuana menggunakan alat angkut hewan berkaki empat ini.

            Dan diantara jenis binatang berkaki empat itu adalah kuda, bagal, dan keledai, untuk difungsikan sebagai alat angkut barang-barag, disamping sebagai perhiasan, bahkan lebih dari itu Allah juga menciptakan binatang-binatang lain amupun fungsi-fungsi dari binatang itu yang tidak diketahui manusia.[9]
2.      Surah Al-Nahl 65-69
  
“dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”
Tafsir Ayat:
Menurut Ahmad Mushtafa Al-Maroghi dalam tafsir Al-Maroghi, dalam ayat-ayat ini Allah menyajikan beberapa dalil tauhid, mengingat ia merupakan poros segala permasalahan di dalam agama Islam dan seluruh agama samawi. Maka diterangkan bahwa Dia telah menurunkan hujan dari langit agar dengan hujan itu bumi yang tadinya mati menjadi hidup, kemudian mengeluarkan susu dari binatang ternak, menjadikan khamar,cuka dan manisan dari anggur dan buah kurma, serta mengeluarkan madu dari lebah yang di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Seiring dengan penjelasan itu, Allah menjelaskan bahwa Dia mengilhamkan kepada lebah agar membuat sarang dan mencari rezekinya dari segala penjuru bumi.
Terdapat pula ayat-ayat lain yang berkaitan dengan produksi, diantaranya Surah Al-Hadid ayat 25, Surah Al-Ambiya Ayat 80, dan Surah Saba’ Ayat 10-11.[10]
C.  Hadis
ـ حدَّثنا عثمانُ بنُ الهَيثمِ أخبرَنا ابنُ جُريجٍ قال عمرُو بنُ دِينارٍ قال ابنُ عبَّاسٍ رضيَ اللّهُ عنهما «كان ذو المَجازِ وعُكاظٌ مَتْجَرَ الناسِ في الجاهليةِ، فلما جاءَ الإِسلامُ كأنَّهم كرِهوا ذلكَ حتى نزلَتْ: {ليس عليكم جُناحٌ أن تَبتغوا فضلاً مِن ربّكم} – البقرة
“Menurut suatu riwayat, pada zaman Jahiliyyah terkenal pasar-pasar bernama Ukadh, Mijnah dan Dzul-Majaz. Kaum Muslimin merasa berdosa apabila berdagang di musim haji di pasar itu. Mereka bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang hal itu. Maka turunlah “Laisa ‘alaikum junahun an tabtaghu fadl-lan min rabbikum” (awal ayat S. 2: 198) yang Membenarkan mereka berdagang di musim haji[11]
حدثنا مُسَدَّدٌ أخبرنا عَبْدُ الْوَاحِدِ بنُ زِيَادٍ أخبرنا الْعَلاَءَ بنُ المُسَيَّبِ أخبرنا أبُو أُمَامَةَ التَّيْمِيُّ ، قال: «كُنْتُ رَجُلاً أُكْرِي في هذَا الْوَجْهِ وكَانَ نَاسٌ يَقُولُونَ إِنَّهُ لَيْسَ لَكَ حَجٌّ، فَلَقِيتُ ابنَ عُمَرَ فَقُلْتُ: يَاأبَا عَبْدِ الرَّحْمنِ إِنِّي رَجُلاً أُكْرِي في هذَا الْوَجْهِ وَإِنَّ نَاساً يَقُولُونَ إِنَّهُ لَيْسَ لَكَ حَجٌّ، فَقال ابنُ عُمَرَ: أَلَيْسَ تُحْرِمُ وَتُلَبِّي، وَتَطُوفُ بالْبَيْتِ، وَتُفَيضُ مِنْ عَرَفَاتٍ، وَتَرْمِي الْجِمَارَ؟ قال قُلْتُ: بَلَى، قال: فإِنَّ لَكَ حَجًّا، جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبيِّ صلى الله عليه وسلّم فَسَأَلَهُ عَنْ مِثْلِ ما سَأَلْتَنِي عَنْهُ، فَسَكَتَ عَنْهُ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلّم فَلَمْ يُجِبْهُ حَتَّى نَزَلَتْ هذِهِ الآيَةُ {لَيْسَ عَلَيْكُم جُنَاحٌ أنْ تَبْتَغُوا فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ} فأَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلّم وَقَرَأَ عَلَيْهِ هذِهِ الآيَةَ وَقال: لَكَ حَجٌّ[12]
Menurut riwayat lain Abi Umamah at-Taimi bertanya kepada Ibnu Umar tentang menyewakan kendaraan sambil naik haji. Ibnu Umar menjawab: “Pernah seorang laki-laki bertanya seperti itu kepada Rasulullah Saw yang seketika itu juga turun “Laisa ‘alaikum junahun an tabtaghu fadl-lan min rabbikum”. Rasulullah Saw memanggil orang itu dan bersabda: “Kamu termasuk orang yang menunaikan ibadah haji.”

D.    Prinsip-prinsip Produksi
Beberapa prinsip yang diperhatikan dalam prduksi, antara lain dikemukakan Muhammad al-Mubarak, sebagai berikut:[13]
1.      Dilarang memproduksi dan memperdagangkan komoditas yang tercela karena bertentangan dengan syariah.
2.      Di larang melakukan kegiatan produksi yang mengarah kepada kedzaliman.
3.      Larangan melakukan ikhtikar (penimbunan barang).
4.       Memelihara lingkungan

E.     Tujuan Produksi
Menurut Nejatullah ash-Shiddiqi, tujuan produksi sebagai berikut:[14]
1.      Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu secara wajar
2.      Pemenuhan kebutuhan keluarga
3.      Bekal untuk generasi mendatang
4.      Bantuan kepada masyarakat dalam rangka beribadah kepada Allah.
F.     Faktor-faktor Produksi[15]
1.      Tanah dan segala potensi ekonomi di anjurkan al-Qur’an untuk di olah dan tidak dapat dipisahkan dari proses produksi.
2.      Tenaga kerja terkait langsung dengan tuntutan hak milik melalui produksi.
3.      Modal, manajemen dan tekhnologi.
G.    Etika Produksi dalam Islam
Etika dalam berproduksi yaitu sebagai berikut:[16]
1.      Peringatan Allah akan kekayaan alam.
2.      Berproduksi dalam lingkaran yang Halal. Sendi utamanya dalam berproduksi adalah bekerja, berusaha bahkan dalam proses yang memproduk barang dan jasa yang toyyib, termasuk dalam menentukan target yang harus dihasilkan dalam berproduksi.
3.      Etika mengelola sumber daya alam dalam berproduksi dimaknai sebagai proses menciptakan kekayaan dengan memanfaatkan sumber daya alam harus bersandarkan visi penciptaan alam ini dan seiring dengan visi penciptaan manusia yaitu sebagai rahmat bagi seluruh alam.
4.      Etika dalam berproduksi memanfaatkan kekayaan alam juga sangat tergantung dari nilai-nilai sikap manusia, nilai pengetahuan, dan keterampilan. Dan bekerja sebagai sendi utama produksi yang harus dilandasi dengan ilmu dan syari’ah islam.
5.      Khalifah di muka bumi tidak hanya berdasarkan pada aktivitas menghasilkan daya guna suatu barang saja melainkan Bekerja dilakukan dengan motif kemaslahatan untuk mencari keridhaan Allah Swt.
Namun secara umum etika dalam islam tentang muamalah Islam, maka tampak jelas dihadapan kita empat nilai utama, yaitu rabbaniyah, akhlak, kemanusiaan dan pertengahan. Nilai-nilai ini menggambarkan kekhasan (keunikan) yang utama bagi ekonomi Islam, bahkan dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh yang tampak jelas pada segala sesuatu yang berlandaskan ajaran Islam. Makna dan nilai-nilai pokok yang empat ini memiliki cabang, buah, dan dampak bagi seluruh segi ekonomi dan muamalah Islamiah di bidang harta berupa produksi, konsumsi, sirkulasi, dan distribusi.

H.    Modal dalam Al Qur’an
Dalam pandangan Al qur’an, uang merupakan modal serta salah satu faktor produksi yang penting, tapi bukan yang terpenting. Manusia menduduki tempat diatas modal disusul dengan sumber daya alam. Modal tidak boleh diabaikan,manusia berkewajiban menggunakannya agar terus produktif dan tidak habis digunakan. Karena itu seoarang wali yang menguasai harta orang orang yang tidak atau belum mampu mengurus hartanya agar mengembangkan harta yang berada di dalam kekuasaanya dan membiayai kebutuhan pemiliknya yang tidak mampu itu,dari keuntungan perputaran modal,bukan dari pokok modal. Ini di pahami dari redaksi surat An Nisa ayat 5:
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”
Orang yang belum sempurna akalnya ialah anak yatim yang belum balig atau orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya.



I.       Simpulan
produksi menurut Al Quran adalah mengadakan atau mewujudkan sesuatu barang atau jasa yang bertujuan untuk kemaslahatan manusia, dan Etika dalam berproduksi yaitu sebagai berikut:
1.      Peringatan Allah akan kekayaan alam.
2.      Berproduksi dalam lingkaran yang Halal.
3.      Etika mengelola sumber daya alam
4.      Etika dalam berproduksi harus dilandasi dengan ilmu dan syari’ah islam.
Manusia menduduki tempat diatas modal disusul dengan sumber daya alam. Modal tidak boleh diabaikan, manusia berkewajiban menggunakannya agar terus produktif dan tidak habis digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Karim , Adi Warman, Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), Ed. 3.
Muhammad. Amin Suma, Tafsir Ayat Ekonomi Teks, Terjemah, dan Tafsir, (Jakarta: AMZAH, 2013), Cet. I.
Mardani, Ayat-ayat dan Hadis Ekonomi Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Ed. 1.
Mawardi, Ekonomi Islam, (Pekanbaru: Alaf Riau: 2007).
Badroen. Faisal, dkk.. Etika Bisnis dalam Islam. (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005).
Al- Bukhari, Ash- Shahih al-bukhari, (Mesir: dar al-fikr,1993)
Sunan Abu Daud, (Mesir: dar al-fikr, 1990)




[1]  Produksi adalah kegiatan menambah faedah (kegunaan) suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan

[2] Distribusi merupakan setiap tindakan atau usaha yang dilakukan baik oleh orang atau lembaga yang ditujukan untuk menyalurkan barang-barang dan jasa-jasa dari produsen ke konsumen

[3] Konsumsi merupakan tindakan pemenuhan kebutuhan atau tindakan menghabiskan dan atau mengurangi nilai guna suatu barang atau jasa

[4] Kasab adalah usaha fisik yangdikerahkan manusia dan islah adalah upaya manusia untuk mengelola dan mengubah sumber-sumber daya yang tersedia untuk memperoleh manfaat yang lebih tinggi. (Adi Warman Karim, Ekonomi Mikro Islam, hal. 102)
 
[5] Adi. Warman Karim, Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), Ed. 3, Hal. 102.

[6] Ibid, h. 103.
[7] Muhammad. Amin Suma, Tafsir Ayat Ekonomi Teks, Terjemah, dan Tafsir, (Jakarta: AMZAH, 2013), Cet. I, h.  97.

[8] dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).(Q.S Al-Nahl : 80)


[9]  Muhammad. Amin Suma, Tafsir Ayat Ekonomi Teks, Terjemah, dan Tafsir, Ibid, h. 98-101.
[10] Mardani, Ayat-ayat dan Hadis Ekonomi Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Ed. 1, h. 100.

[12]  Abu daud, sunan abu daud, hal 158

[13] Mawardi, Ekonomi Islam, (Pekanbaru: Alaf Riau: 2007), hlm 65-67.

[14] Ibid, h. 67-68

[15] Ibid, h. 69-72

[16] Faisal Badroen, dkk. 2005. Etika Bisnis dalam Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press.

2 komentar:

Laporan Keuangan Koperasi

  apa itu laporan keuangan ??? Laporan keuangan  sangat penting bagi koperasi. Laporan ini merupakan hal yang terkait dengan berjalannya k...